Saya memandangi paras muka saya terpantul di kaca sebuah mobil sedan di depan saya, kaca itu berwarna hitam pekat, tidak terlihat sosok manusia yang mengendarainya, saya tidak peduli, saya terus saja bernyanyi dengan nada yang saya buat seriang mungkin, dengan tempo yang acak-acakan dan suara saya yang sedikit parau, saya pikir saya bukan bernyanyi tetapi berkoak-koak mirip seperti burung gagak, dengan dibantu sedikit alunan musik dari tamborin yang saya buat dari besi tutup botol minuman, dan sebatang kayu, saya bernyanyi lagu-lagu masa kini yang diajarkan oleh teman saya, tidak gratis, saya harus membayar untuk sebuah lagu baru, semakin saya beserta teman-teman yang lain menyanyikan lagu-lagu yang paling baru, semakin banyak pula orang-orang yang memberi kita uang barang hanya receh sekalipun, adil, cukup adil menurut saya. Mobil dengan kaca pekat ini tidak membuka membuka, padahal saya sudah memberi bonus sebuah joged, jarang-jarang saya memberi bonus seperti ini, lampu rambu yang awalnya merah sekarang berubah menjadi hijau, mobil itu melesat tanpa memberi saya receh, setan saya pikir, saya tidak mau berteriak mengumpat pada mobil itu, saya harus menghemat tenaga suara saya untuk bernyanyi di lampu merah berikutnya, saya berjalan ke sisi jalan, keringat terus mengucur di sekujur tubuh dan muka saya, kulit yang sudah sangat terbakar matahari, hitam ditambah dengan noda tanah yang sudah melekat beberapa hari ditubuh saya, lalu saya berpikir kapan terakhir kali saya mandi, saya tidak ingat, tempat saya mandi biasanya, sudah tidak ada airnya lagi, jangan berpikiran itu sebuah kamar mandi lengkap dengan kakus dan peralatan mandi yang lengkap seperti di hotel-hotel, tempat mandi saya lebih tepatnya adalah pinggiran jalan, ada sebuah saluran pipa bocor, saya seringkali mandi ataupun bermain air disitu, tapi beberapa waktu lalu beberapa bapak-bapak "merusak" tempat mandi saya, sekarang pipa itu tidak mengeluarkan air lagi, saya memaki kepada bapak-bapak itu, anjing dasar tidak tahu kalau mandi itu sebagian dari kesehatan, menutup tempat mandi orang seenaknya, ah sudah lah, toh walaupun saya berteriak-teriak pada bapak-bapak sialan itu sekalipun, tetap saja bapak-bapak itu meleos pergi tanpa menggubris kata-kata saya.
Panas sekali hari ini, sama seperti hari kemarin-kemarin juga, matahari sudah berada tepat di puncak kepala, memancarkan panasnya hingga ke ujung jempol kaki saya, perut saya berbunyi, setiap hari juga berbunyi, saya hanya makan sekali sehari, tapi kalau saya menemukan harta karun di tong sampah, entah itu nasi bungkus yang tidak habis, ataupun sebuah bala-bala yang sudah penuh dengan gigitan, rasa lapar saya ini sedikit terobati, barang beberapa jam lah, tapi sialan orang-orang makin hari makin pelit, bahkan sampah pun mereka tidak rela untuk dibagi dengan orang seperti saya, tiap kali saya mengoreh-ngoreh tempat sampah, pasti hanya bungkus makanannya tidak tersisa isinya, dasar brengsek, aduh saya lapar sekali sekali, saya merogoh saku celana saya, celana pendek kusam, dekil, putih... asalnya warnanya putih tapi sekarang... hitam jijik, saya mengeluarkan pendapatan saya hari ini, cuma beberapa keping logam saja, saya hitung hanya ada 700 perak, anjing saya pikir, padahal setiap kali ada abang-abang preman yang suka malakin, saya selalu berhasil tunggang langgang kabur, dasar itu preman-preman sialan, bocah seperti saya doyan sekali dipalakin, saya mau makan apa setan, tapi kata-kata itu cukup ada di hati saya saja, kalau kata-kata itu keluar di depan muka preman-preman sialan itu, habislah saya dihajarnya, pelipis saya yang sobek pun belum sembuh total hasil dari tempo hari saya dipukuli preman-preman itu.
Padahal saya sudah mengamen lebih rajin dari anak-anak sekolahan, saya sudah siap sedia dari jam 6 pagi, tapi kenapa saya hanya dapat uang 700 perak, hampir 6 jam saya berada di jalanan ini, tapi belum cukup menghasilkan, sepertinya enak seperti bapak-bapak yang tempo hari saya lihat di televisi, di sebuah gedung yang besar dengan patung garuda yang besar, kerjaan mereka hanya tidur, tapi kata bang Sholeh yang punya kios rokok di seberang, gaji mereka itu puluhan juta tiap bulannya, apalagi kata bang Sholeh, mereka dapat mobil segala dan rumah juga... gratis kata bang Sholeh dengan penuh amarah, enak sekali kata saya, memangnya kerjaanya mereka apa sih bang, saya bertanya ke bang Sholeh, kerjaannya mereka katanya sih mikirin permasalahan rakyat, mereka itu kan wakil-wakil rakyat, tampat menampung inspirasi-inspirasi rakyat, begitu bang Sholeh menuturkan, lalu saya bertanya lagi ke bang Sholeh, inspirasi itu apa bang?, inspirasi... ya inspirasi lah, iya apa bang?, apa ya... pokoknya begitulah jang, maneh loba nanya pisan, kayak yang ngerti sajalah, ah dasar. Penjelasan bang Sholeh masih menjadi pertanyaan buat saya, bukan tentang soal inspirasi sialan itu, tapi tentang pekerjaan bapak-bapak itu, pekerjaan macam apa yang kerjaannya tidur tapi dapat duit puluhan juta, beda sekali dengan saya, kerja lebih dari 12 jam tapi palingan cuma dapat 5000 perak, itupun kalau lagi beruntung. Anjing.
*sebuah sequence dari film pendek saya yang tidak jadi-jadi, brengsek.
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Ceritera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Ceritera. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Maret 2010
Senin, 08 Februari 2010
Engkau Musuhku Malam Ini
Bantingan pintu itu jelas-jelas keras, jelas-jelas terdengar seperti suara geledek, tapi Indra acuh tidak acuh bahkan ia tidak peduli kalau saja pintu itu roboh lalu hancur berkeping-keping atau rumahnya ikut roboh sekalipun. Ia sudah sangat marah tanpa harus mempedulikan hal yang lain pikirnya, sambil terus berjalan mondar-mandir di teras rumahnya, ia terus meracau tidak jelas, mengeluarkan kata-kata yang terdengar seperti komat-kamit. Kemudian ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil sebatang rokok filter didalamnya lalu menaruh di sela-sela bibirnya, ia mencari-cari korek didalam celananya, merogoh-rogoh sambil terus komat-kamit tidak jelas, dia mengeluarkan sekotak korek api batangan lalu menyalakan rokok yang sudah sedari tadi berada di bibirnya.
Ia masih saja terus uring-uringan tanpa henti, dia bersandar di tembok. Rumah tua dengan gaya arsitektur art deco, masih dengan kursi-kursi dan meja kayu yang modelnya sudah tidak lagi diproduksi jaman sekarang, ia berada di sebelah kursinya itu, hembusan asap rokok langsung berbaur ditelan angin yang cukup dingin dan cukup kencang malam ini, ia terus menyedot rokok itu tanpa ampun tampak seperti orang kesetanan.
Tak lama ia mendengar pintu depan itu terbuka, suara engsel yang bercicit yang harusnya sudah ia beri oli agar tidak mengeluarkan bunyi yang menyebalkan. Muncul dibalik pintu sesosok wanita anggun, masih cantik untuk umur yang sudah kepala tiga. Ia adalah Mayang, istri dari Indra untuk sekitar 7 tahun ini, dengan suara yang sedikit bergetar Mayang lalu berkata. "Kamu jangan seperti ini mas, jangan jadi malah marah-marah, terus---"
Indra hanya terdiam, dengan mata yang menusuk bagai elang, air muka yang mendidih, ia tidak mengeluarkan suara barang sekata pun, Mayang menangkap ia tidak perlu lagi meneruskan kata-katanya, suaminya sudah sangat marah malam ini. "Kamu pikir pikiran kamu itu bisa aku anggap normal---bisa aku anggap ide yang brilian. Kamu gila, kamu pikir aku sudah cukup tidak waras." Hening sejenak, Mayang tidak langsung menanggapi perkataan suaminya. "Lalu bagaimana caranya kalau kamu pikir ide aku itu buruk mas, bagaimana...?!"
Tidak mempedulikan kata-kata istrinya, Indra mengeluarkan lagi sebatang rokok dalam saku celananya, ketika Indra menyalakan rokok, pancaran api dari korek batangannya menerangi wajahnya barang sedetik, Mayang bisa melihat raut muka Indra yang kurus, kulit yang agak terbakar matahari. Sedetik Mayang merasa sangat kasihan dengan nasib suaminya, Indra memang pekerja keras, ia memang tidak pernah lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan seorang ayah untuk ketiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil, sosok Indra sewaktu pertama kali Mayang bertemu dengannya memang sudah seperti ini, tapi ada perasaan yang berbeda sesudah ia menikahi atau lebih tepatnya mencintai seseorang yang bernama Indra yang sedang berdiri di depannya dengan mengeluarkan aura marah yang cukup kentara.
"Kalau kamu tidak mau dengan ide aku mas, ya tolonglah kamu sedikit kurangi keidealisan kamu itu di kantor. Coba seperti rekan-rekan kamu itu!" Indra sudah sangat sangat murka sekarang, ia seperti sedang terpanggang di bara api yang sangat panas.
"...Aku sudah bilang seribu kali ke kamu---orang-orang di kantor aku itu babi semua. Mereka itu orang-orang bodoh, yang kerjaannya tidak ada tapi menuntut untuk terus dapat bonus terus kenaikan gaji. Walaupun aku ini cuma seorang pns, aku tidak mau menjadi orang yang picik seperti itu---aku punya harga diri May..."
Dengan sigap Mayang memotong, "Terus mau kamu apa, kamu pikir dengan harga diri, kita bisa ngasih makan anak-anak kita, kita bisa bayar iuran sekolah mereka, pikir dong mas pikir---"
"Kamu pikir aku sekarang tidak sedang berpikir, aku ini tiap hari mikir May, aku---"
Mayang secepat kilat memotong kalimat suaminya. "Terus mana hasilnya, mana aku tanya, gaji kamu itu sangat pas-pasan mas---hanya bisa menghidupi sepuluh hari untuk kita berlima ini!"
Indra kembali terdiam tapi tetap raut mukanya masih murka, ia ingin sekali meledak, ia ingin sekali membenamkan kepala di dalam tanah, tanpa omongan-omongan dari istrinya pun ia sudah cukup pusing dengan segala macam pikirannya sendiri.
Indra lalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salah menjadi orang yang jujur, apa salah menjadi orang yang mendapat haknya dari hasil kerjanya sendiri, bukan uang buta, bukan uang haram, apa ia harus menjadi seperti orang-orang lain yang dengan bangganya mendapat uang bukan dari hasil kerja kerasnya, bukan dari keringatnya sendiri.
"Mas... mas, kamu kok malah ngelamun sih?" Indra tertunduk lesu, dengan pancaran mukanya yang berharap agar Mayang berhenti bicara.
"Aku sudah sangat pusing malam ini May, aku mohon besok saja kita lanjutkan obrolan ini."
Tampak Indra mulai mereda, tungkainya sudah sangat letih, sudah banyak beban mengendap disana, tapi bukannya malah mengiyakan perkataan suaminya Mayang malahan membombardir Indra dengan senapan mulutnya.
"Tidak bisa mas, kita sudah sangat kekurangan uang, tidak bisa santai-santai saja, ya sudah kamu nurut saja dengan---"
Giliran Indra yang memotong kalimat Mayang. "Cukup May... cukup. Kamu pikir dengan kamu menjual diri kamu ke mantan pacar kamu itu, bisa aku tolerir, aku bisa dengan santai hanya diam saja."
Angin sudah mulai sangat dingin, wajar, jam sudah memukul 11 malam.
"Hanya sekali mas, dia berjanji bakal memberi kita suntikan dana 20 juta, anggap saja aku hanya pergi jalan dengan dia, tidak tidur dengannya."
Mata yang asalnya sudah tidak cukup kuat untuk terbuka, dan mulut yang sudah mengatup, kini malah membuka sangat lebar.
"Harga diri kamu... kamu taruh dimana May, kamu pikir suami mana yang rela istrinya bersetubuh dengan laki-laki lain dan hanya bisa pasrah, kamu sudah tidak punya otak ya May..."
Dengan sangat murka dan setengah berteriak. "Karena aku punya otak mas, aku harus memberi makan anak-anak kita, kamu pikir dengan gaji kamu yang hanya 2 juta itu cukup buat menghidupi kita mas, menghidupi anak-anak kita."
"Aku tidak tahu May, aku cape!" Indra berkata tetapi yang terdengar seperti sebuah bisikan lirih.
Indra selalu saja luluh untuk segala omongan yang keluar dari mulut istrinya, ia sangat sangat mencintai istrinya dan sangat mencintai ketiga anaknya, suara burung hantu di kejauhan samar-samar terdengar membuat bulu kuduk terbangun, malam sudah lebih jauh jauh berlari, disaksikan bulan yang malu-malu mengintip dari balik awan, dan suara-suara angin yang bergesekan dengan pepohonan.
Indra hanya bisa menangis di obrolan malam yang cukup kelam ini, ia sudah tidak sanggup untuk berkata apapun lagi, ia terjatuh lesu di atas kedua lututnya, mengutuk kehidupan yang sangat sangat tidak adil untuknya, untuk keluarganya.
*Cimahi, 27 Januari 2009
Ia masih saja terus uring-uringan tanpa henti, dia bersandar di tembok. Rumah tua dengan gaya arsitektur art deco, masih dengan kursi-kursi dan meja kayu yang modelnya sudah tidak lagi diproduksi jaman sekarang, ia berada di sebelah kursinya itu, hembusan asap rokok langsung berbaur ditelan angin yang cukup dingin dan cukup kencang malam ini, ia terus menyedot rokok itu tanpa ampun tampak seperti orang kesetanan.
Tak lama ia mendengar pintu depan itu terbuka, suara engsel yang bercicit yang harusnya sudah ia beri oli agar tidak mengeluarkan bunyi yang menyebalkan. Muncul dibalik pintu sesosok wanita anggun, masih cantik untuk umur yang sudah kepala tiga. Ia adalah Mayang, istri dari Indra untuk sekitar 7 tahun ini, dengan suara yang sedikit bergetar Mayang lalu berkata. "Kamu jangan seperti ini mas, jangan jadi malah marah-marah, terus---"
Indra hanya terdiam, dengan mata yang menusuk bagai elang, air muka yang mendidih, ia tidak mengeluarkan suara barang sekata pun, Mayang menangkap ia tidak perlu lagi meneruskan kata-katanya, suaminya sudah sangat marah malam ini. "Kamu pikir pikiran kamu itu bisa aku anggap normal---bisa aku anggap ide yang brilian. Kamu gila, kamu pikir aku sudah cukup tidak waras." Hening sejenak, Mayang tidak langsung menanggapi perkataan suaminya. "Lalu bagaimana caranya kalau kamu pikir ide aku itu buruk mas, bagaimana...?!"
Tidak mempedulikan kata-kata istrinya, Indra mengeluarkan lagi sebatang rokok dalam saku celananya, ketika Indra menyalakan rokok, pancaran api dari korek batangannya menerangi wajahnya barang sedetik, Mayang bisa melihat raut muka Indra yang kurus, kulit yang agak terbakar matahari. Sedetik Mayang merasa sangat kasihan dengan nasib suaminya, Indra memang pekerja keras, ia memang tidak pernah lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan seorang ayah untuk ketiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil, sosok Indra sewaktu pertama kali Mayang bertemu dengannya memang sudah seperti ini, tapi ada perasaan yang berbeda sesudah ia menikahi atau lebih tepatnya mencintai seseorang yang bernama Indra yang sedang berdiri di depannya dengan mengeluarkan aura marah yang cukup kentara.
"Kalau kamu tidak mau dengan ide aku mas, ya tolonglah kamu sedikit kurangi keidealisan kamu itu di kantor. Coba seperti rekan-rekan kamu itu!" Indra sudah sangat sangat murka sekarang, ia seperti sedang terpanggang di bara api yang sangat panas.
"...Aku sudah bilang seribu kali ke kamu---orang-orang di kantor aku itu babi semua. Mereka itu orang-orang bodoh, yang kerjaannya tidak ada tapi menuntut untuk terus dapat bonus terus kenaikan gaji. Walaupun aku ini cuma seorang pns, aku tidak mau menjadi orang yang picik seperti itu---aku punya harga diri May..."
Dengan sigap Mayang memotong, "Terus mau kamu apa, kamu pikir dengan harga diri, kita bisa ngasih makan anak-anak kita, kita bisa bayar iuran sekolah mereka, pikir dong mas pikir---"
"Kamu pikir aku sekarang tidak sedang berpikir, aku ini tiap hari mikir May, aku---"
Mayang secepat kilat memotong kalimat suaminya. "Terus mana hasilnya, mana aku tanya, gaji kamu itu sangat pas-pasan mas---hanya bisa menghidupi sepuluh hari untuk kita berlima ini!"
Indra kembali terdiam tapi tetap raut mukanya masih murka, ia ingin sekali meledak, ia ingin sekali membenamkan kepala di dalam tanah, tanpa omongan-omongan dari istrinya pun ia sudah cukup pusing dengan segala macam pikirannya sendiri.
Indra lalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salah menjadi orang yang jujur, apa salah menjadi orang yang mendapat haknya dari hasil kerjanya sendiri, bukan uang buta, bukan uang haram, apa ia harus menjadi seperti orang-orang lain yang dengan bangganya mendapat uang bukan dari hasil kerja kerasnya, bukan dari keringatnya sendiri.
"Mas... mas, kamu kok malah ngelamun sih?" Indra tertunduk lesu, dengan pancaran mukanya yang berharap agar Mayang berhenti bicara.
"Aku sudah sangat pusing malam ini May, aku mohon besok saja kita lanjutkan obrolan ini."
Tampak Indra mulai mereda, tungkainya sudah sangat letih, sudah banyak beban mengendap disana, tapi bukannya malah mengiyakan perkataan suaminya Mayang malahan membombardir Indra dengan senapan mulutnya.
"Tidak bisa mas, kita sudah sangat kekurangan uang, tidak bisa santai-santai saja, ya sudah kamu nurut saja dengan---"
Giliran Indra yang memotong kalimat Mayang. "Cukup May... cukup. Kamu pikir dengan kamu menjual diri kamu ke mantan pacar kamu itu, bisa aku tolerir, aku bisa dengan santai hanya diam saja."
Angin sudah mulai sangat dingin, wajar, jam sudah memukul 11 malam.
"Hanya sekali mas, dia berjanji bakal memberi kita suntikan dana 20 juta, anggap saja aku hanya pergi jalan dengan dia, tidak tidur dengannya."
Mata yang asalnya sudah tidak cukup kuat untuk terbuka, dan mulut yang sudah mengatup, kini malah membuka sangat lebar.
"Harga diri kamu... kamu taruh dimana May, kamu pikir suami mana yang rela istrinya bersetubuh dengan laki-laki lain dan hanya bisa pasrah, kamu sudah tidak punya otak ya May..."
Dengan sangat murka dan setengah berteriak. "Karena aku punya otak mas, aku harus memberi makan anak-anak kita, kamu pikir dengan gaji kamu yang hanya 2 juta itu cukup buat menghidupi kita mas, menghidupi anak-anak kita."
"Aku tidak tahu May, aku cape!" Indra berkata tetapi yang terdengar seperti sebuah bisikan lirih.
Indra selalu saja luluh untuk segala omongan yang keluar dari mulut istrinya, ia sangat sangat mencintai istrinya dan sangat mencintai ketiga anaknya, suara burung hantu di kejauhan samar-samar terdengar membuat bulu kuduk terbangun, malam sudah lebih jauh jauh berlari, disaksikan bulan yang malu-malu mengintip dari balik awan, dan suara-suara angin yang bergesekan dengan pepohonan.
Indra hanya bisa menangis di obrolan malam yang cukup kelam ini, ia sudah tidak sanggup untuk berkata apapun lagi, ia terjatuh lesu di atas kedua lututnya, mengutuk kehidupan yang sangat sangat tidak adil untuknya, untuk keluarganya.
*Cimahi, 27 Januari 2009
Senin, 30 November 2009
Seorang Pria dan Sebuah Kursi Goyang
Dingin...dingin sekali, tulang-tulangku seakan beku menggigil, gigiku bergemertak tak teratur mengeluarkan suara seperti kursi kayu tua yang dihentak-hentakkan dengan cepat, degup jantung seperti yang tak bernyawa. senyap. Malam ini adalah malam ketujuh langit menghujani bumi seperti bom tiada henti, tidak pernah berhenti hanya melamban tapi tetap basah.
Gulma-gulma sudah mulai meliar keluar dari dalam ranah. Merimbun.
Jalanan yang lembab serta meluber dan warna hijau di pinggiran. Melumut.
Angin dingin yang berhembus seperti menyembunyikan pasukan berpedang tidak nampak menusuk-nusuk daging. Sudah cukup lama bulan tidak menampakkan batang hidungnya di muka langit, yang biasanya memperlihatkan seorang nenek yang sedang menyulam atau sang kelinci pengelana, sama halnya dengan para bintang yang biasanya genit, berkedap-kedip. Tidak ada. Lama awan kelabu kehitaman itu mengatapi
rumah bumi ini, bayangannya membuat samar antara siang menjadi malam, dan malam menjadi sangat malam. Gelap. Ditambah rintik-rintik hujan seperti ini, keadaan menjadi semakin mencekam.
Uap dari secangkir teh panas itu meliuk-liuk di udara malam ini, melayang-layang hingga akhirnya lenyap berbaur dengan udara, tersudut di sebelah saya, sebuah meja kecil yang diatasnya tergolek satu piring kue, satu vas yang hanya ada satu bunga, bunga mawar putih, dan secangkir teh panas yang entah berapa lama lagi menjadi panas.
Saya duduk di atas kursi goyang tua yang tersematkan sebuah bantal sebagai alas, saya senang mendapati diri saya berada di depan rumah, di teras ini, bagian dari rumah ini lah tempat kesenangan saya untuk sekedar membunuh waktu. Saya berpikir kenapa hujan terus menetes tanpa henti, aneh saya pikir, tapi mungkin ini hanya fenomena alam biasa. Lagipula apa yang bisa saya kerjakan di usia senja saya seperti sekarang, usia yang sudah bertanduk 7, tubuh yang sudah reot, panca indera yang sudah menuli, membuta, saya kira inilah kegiatan utama saya sekarang, duduk di kursi goyang tua, sambil hanya memandangi pemandangan dan banyak melamun.
Kekasih saya sekaligus istri saya sudah terlebih dahulu meninggalkan saya di dunia ini, belahan jiwa saya, cinta sejati saya, dia adalah wanita paling tepat dan paling hebat yang saya pilih untuk menjadi pendamping saya di kehidupan yang singkat ini, betapapun saya tidak ditinggal sendiri di dunia indah ini, saya tinggal bersama anak perempuan saya, anak terakhir dari ketiga anak perempuan saya, ia bernama Malina, Malina Rarasati, dia adalah anak yang cantik, ia sudah menikah, ia dinikahi oleh seorang pria yang baik, sangat baik justru, penyayang, dan sangat bertanggung jawab, saya tidak peduli apa profesinya, saya bukan manusia sedangkal itu, tapi pastinya pekerjaanya halal dan mampu menghidupi anak perempuan saya dan kedua cucu kembar saya yang lucu, saya bahagia bersama dengan keluarga anak saya ini, saya merasa terus hangat, saya senang Malina memilih pria sempurna dalam hidupnya.
Ketika akhir pekan kadang-kadang anak perempuan saya yang nomor satu yang tinggal di Jakarta datang menengokku, dia bernama Maharani Rarasati, ia berkunjung bersama suami dan anak-anaknya, tapi anak perempuan saya yang nomor dua jarang mengunjungi saya di Bandung, karena ia ikut bersama suaminya yang berkewarnegaraan Inggris, dan dia bernama Mayasita, Rarasati nama belakangnya pastinya, saya rindu dengan dia, kami terpisah jarak ruang dan waktu, tapi kadangkala dia menelepon dari sana hanya untuk menanyakan kabar, saya, Malina keluarga, Maharani keluarga, atau kadang-kadang ia bercerita tentang perasaannya, semua anak saya memang terbiasa berbagi isi hatinya dengan saya dan mendiang istri saya, sekarang hanya bisa kepada saya, tak ada batas usia, saya nyaman bisa menjadi pendengar dan motivator bagi ketiga anak saya.
Saya sangat merindukan seluruh keluarga saya berkumpul, terutama istri saya, kami adalah keluarga paling bahagia di muka bumi ini, keluarga paling bahagia yang pernah diciptakan tuhan, saya rasa. Saya menikmati ketika pikiran ini menerawang jauh ke masa lampau, terutama ketika saya seperti sekarang, hanya duduk di kursi butut ini sambil melihat jalanan tepat seberang halaman rumah anak saya, tapi hujan yang sudah berlangsung 7 hari ini seperti membawa kesan aneh, bahkan mungkin seperti hendak menyampaikan suatu pesan, pesan yang aneh pastinya, selama 7 hari dan tepatnya pada malam hari, keadaan menjadi sedikit berbeda lewat kacamata saya, entahlah bagaimana, tapi nalar saya mengatakan ini berbeda.
Selama 7 hari ini dengan hujan terus mengguyur, saya disajikan pemandangan yang aneh, seperti, saya melihat kucing berseliweran, saya tahu apa anehnya dengan kucing, tapi, mereka semuanya berwarna hitam, hitam kelam, dan mereka mengeluarkan suara miaw yang miris, seperti orang kesakitan. Lalu beberapa malam yang lalu, saya melihat banyak orang-orang yang mengenakan baju putih, seperti bukan baju, tapi seperti daster dengan ikatan di beberapa tempat di tubuh mereka, dan yang paling aneh menurut saya adalah cara berjalan, cara berjalan mereka melompat-lompat pelan, seperti merasakan panas bila bersentuhan dengan tanah, bertanya-tanya saya jadinya. Dan setelahnya seringkali dibelakang para manusia yang berbaju putih itu, mengikuti beberapa orang lagi yang berbeda, mereka tinggi besar, saya tahu itu karena mereka hampir setinggi gerbang rumah anak saya yang lebih dari 2 meter, dan mereka berbaju dan berkerudung hitam, rasa penasaran membius kepala, tapi toh saya tidak beranjak dari kursi ini.
Ketika baru saja saya melihat salah satu orang yang berbaju putih itu dipecut berulang-ulang oleh orang yang berbaju hitam, niatnya saya hendak mengahampiri, tapi tiba-tiba pintu depan terbuka, dan keluarlah anak perempuan saya, Malina, tapi ia tidak melirikku, kemudian ia duduk di tangga teras, ia hanya terdiam, dan ketika saya hendak mau menghampirinya, pintu depan itu kembali terbuka, kali ini suami anak saya, kemudian ia duduk disamping Malina, dan ia pun tidak menghardik aku yang duduk di kursi goyang ini, kenapa saya pikir, apakah mereka memang benar-benar tidak melihat saya, lalu keluar kalimat dari Malina yang memecah kesunyian, ia berkata,
" Bapak pasti menyukai sekali malam ini, langit sangat cerah, serangga-serangga bersenandung dimana-mana, damai sekali." Malina tersenyum pada langit, lalu melihat ke suaminya.
aneh....?!, saya pikir.
" iya, ayah juga yakin bapak pasti sangat menyukainya, terutama malam ini, malam ini memang cerah sekali, ditambah dengan benderang cahaya bulan purnama, memang tenang sekali."
hah...?! cahaya bulan purnama...?! saya berkata dalam hati.
ketika saya baru saja mau bersuara, Malina kembali berkata,
" saya kangen sekali dengan bapak, sama ibu juga!", terlihat jelas oleh saya air mengalir dari sela matanya, lalu suami Malina memeluknya dan mencium kepalanya.
" saya tahu sayang, tapi kamu ngga boleh seperti ini, kamu harus ikhlas, bapak pasti sudah senang di alam sana, mungkin beliau sudah ketemu dengan ibu, sekarang kan sudah hari ketujuh semenjak bapak pergi meninggalkan kita!"
kata-kata itu...kata-kata itu tepat berakhirnya dengan gemuruh suara guntur yang membelah langit dan membelah hati saya, saya tidak percaya, jadi sudah tujuh hari saya meninggal dunia, tapi kenapa...kenapa?!, saya sedih sangat sedih, tapi aneh tidak menetes air mata dari kelopak mata saya?
" kita duduk di kursi ya sayang, kamu duduk di kursi goyang kesukaan bapak, yah!!!"
" ayah sudah membuat teh panas sebelumnya, makan juga kue nya ya sayang, biar hati kamu tenang, biar bapak juga tenang di sana!"
Malina pun menuruti apa yang dikatakan suaminya, ketika Malina hampir saya duduk di pangkuan saya, dia dengan mulusnya duduk kursi goyang saya ini, dia menembus tubuh saya, dan saya kemudian berdiri, saya baru sadar bahwa saya ini roh, roh yang melayang-layang selama 7 hari ini, dengan alam yang sama tetapi berbeda suasana dan penglihatan.
Yanuar Kapriradela
Cimahi, 14 November 2009
Jumat, 13 November 2009
A Tales of Rubber Duck
Pada suatu waktu di suatu tempat, tersebut sebuah kisah dari seekor bebek karet berwarna putih. Yang seluruh hidupnya ia habiskan dengan mengarungi arus-arus air dalam selokan bawah tanah dunia.
"apa yang harus aku lakukan dengan waktu ?",
Acap kali pertanyaan itu menggaung di kepala karetnya. Apakah ia harus menampar-namparnya, atau mengiris-ngirisnya dengan pisau hingga tercecer, ataukah membelainya dengan penuh cinta dan kelembutan, begitu lembut ?! begitulah yang ia pikir.
Tapi sering kali sang takdir berucap lain, ia berujar kata-kata yang terkadang memekakan telinga.
Ia terombang-ambing oleh arus air yang entah membawanya kemana, terantuk-antuk akan batasan-batasan hidup, kadang ia menemukan suatu peraduan yang bersih yang airnya wangi dan bercahaya terang, saat itulah ia merasakan belaian lembut kehidupan.
Manisnya udara yang merasuki rongga-rongga dari tiap jengkal tubuhnya, kadang ia pun bernyanyi lagu yang sering ia tembangkan, yakni "wouldn't it be nice",
"...Wouldn't it be nice if we were older
Then we wouldn't have to wait so long
And wouldn't it be nice to live together
In the kind of world where we belong..."
Ia bernyanyi dengan senyum terukir di wajah karetnya, tidak lupa sambil menggoyang-goyangkan kepala kecil karetnya.
Tapi ketika ia berada pada satu persimpangan dan mengecup sebuah tempat yang gelap, kotor, dan berbau busuk, waktu mengendur dengan panjangnya, yang tiap detiknya ia merasa bahawa ia dikutuk atas hidupnya. Ia memebersihkan pipinya yang ternodai dengan air mata, air mata yang memberinya damai, tetapi harus ia bayar dengan darah, warna yang beracun.
Kebahagian yang ia sentuh harus ia bayar tiap sen nya, hidup tidak adil pikirnya, memang hidup tidak adil untuknya.
Adegan - adegan akan lembaran - lembaran hidup terasa berulang-ulang, seperti adegan yang direka ulang. Deja vu.
Ya, deja vu yang sudah kadaluarsa, siklus ini, kejadian ini terasa begitu basi layaknya susu yang disajikan malam hari tetapi baru diteguk di pagi hari, asam.
Ia tidak menyesali hidupnya yang sekarang ini, ia sedang menjalani mimpinya, yakni. Hidup bebas. Tidak terkekang apapun dan siapapun, dan tidak pula mengekang, ia begitu hidup, kejadian-kejadian atas hidup yang menimpa dirinya adalah murni atas kehendaknya sendiri dan kehendak Tuhan tentunya.
Pernah satu waktu ia melewati selokan yang diatasnya berdiri sebuah kota yang megah, mungkin. Karena ia hanya bisa mendengar bunyi-bunyi yang tiada henti, dan suara alunan musik yang menggelegar. Sekonyong-konyongnya ia menemukan seekor bebek karet wanita yang sama, yang sedang mengalir mengikuti aliran air selokan yang sama, mereka mengalir bersama, mereka kerap mengobrol, membicarakan tentang tempat-tempat indah yang mereka pernah lalui, bercanda ria, tertawa-tawa bersama. Kala itu ia merasa sangat bahagia tidak harus menjalani hidup ini sendirian, oh...ia bersyukur akan hidup.
Tetapi rupanya takdir berkehendak lain, di satu cabang aliran selokan, bebek karet wanita itu mengikuti aliran selokan ke arah kanan sedangkan ia mengalir ke arah sebaliknya.
Kembali terucap kata dari seekor bebek karet itu, hidup tidak adil.
7 bulan berlalu.
Bebek karet itu telah mengalami fase-fase hidupnya, ia telah kuat, ia telah sangat siap dengan apa yang akan takdir sajikan di depan matanya.
Guratan - guratan atas apa yang pernah ia alami terukir jelas di wajah dan seluruh tubuhnya, ia mulai lusuh, warna tubuhnya tidak secemerlang seperti awal, penglihatannya pun seakan memudar,
"takdir telah melukis karyanya di sekujur tubuhku",pikirnya.
Merangkak, telah ia hadapi.
Tenggelam, pernah ia lalui.
Tersenyum paling manis, pernah menghampiri.
"apa lagi yang waktu akan beri untukku ?!"
Tanpa sadar pengalaman yang raksasa telah menunggunya didepan, telah menantikan seekor bebek karet yang telah berjuang hingga saat ini. Sang bebek karet itu hanya menantikan mati, hanya ingin mengakhiri perjalanan ini dengan damai dan serba putih.
Ia telah cukup lelah mengarungi hidup semata wayangnya ini. Tapi.
Pusaran air didepan tak bisa ia hindari, ia terputar - putar bersama air dan segala apa yang dikandunganya.
Ia tenggelam, tetapi ia bisa tenang bernafas didalam air.
"inilah saatnya !", ia duga.
Lama ia menutup mata, menantikan ajal hidupnya dengan tenang,
tak lama waktu berselang, ia membuka bola matanya.
Ia takjub dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya,
"apakah ini surga, apakah ini yang disebut orang kehidupan setelah kehidupan ?!",pikirnya.
Hamparan air yang sangat luas telah terbentang jelas dihadapannya,
Laut.
Sejauh ia menerawang, hanya hamparan air yang sangat luas yang ia lihat.
"Oh, takdir ingin aku masih berjuang melawan hidup, aku harus siap dengan apa yang telah diberikan untukku !",
Bersambung.
"apa yang harus aku lakukan dengan waktu ?",
Acap kali pertanyaan itu menggaung di kepala karetnya. Apakah ia harus menampar-namparnya, atau mengiris-ngirisnya dengan pisau hingga tercecer, ataukah membelainya dengan penuh cinta dan kelembutan, begitu lembut ?! begitulah yang ia pikir.
Tapi sering kali sang takdir berucap lain, ia berujar kata-kata yang terkadang memekakan telinga.
Ia terombang-ambing oleh arus air yang entah membawanya kemana, terantuk-antuk akan batasan-batasan hidup, kadang ia menemukan suatu peraduan yang bersih yang airnya wangi dan bercahaya terang, saat itulah ia merasakan belaian lembut kehidupan.
Manisnya udara yang merasuki rongga-rongga dari tiap jengkal tubuhnya, kadang ia pun bernyanyi lagu yang sering ia tembangkan, yakni "wouldn't it be nice",
"...Wouldn't it be nice if we were older
Then we wouldn't have to wait so long
And wouldn't it be nice to live together
In the kind of world where we belong..."
Ia bernyanyi dengan senyum terukir di wajah karetnya, tidak lupa sambil menggoyang-goyangkan kepala kecil karetnya.
Tapi ketika ia berada pada satu persimpangan dan mengecup sebuah tempat yang gelap, kotor, dan berbau busuk, waktu mengendur dengan panjangnya, yang tiap detiknya ia merasa bahawa ia dikutuk atas hidupnya. Ia memebersihkan pipinya yang ternodai dengan air mata, air mata yang memberinya damai, tetapi harus ia bayar dengan darah, warna yang beracun.
Kebahagian yang ia sentuh harus ia bayar tiap sen nya, hidup tidak adil pikirnya, memang hidup tidak adil untuknya.
Adegan - adegan akan lembaran - lembaran hidup terasa berulang-ulang, seperti adegan yang direka ulang. Deja vu.
Ya, deja vu yang sudah kadaluarsa, siklus ini, kejadian ini terasa begitu basi layaknya susu yang disajikan malam hari tetapi baru diteguk di pagi hari, asam.
Ia tidak menyesali hidupnya yang sekarang ini, ia sedang menjalani mimpinya, yakni. Hidup bebas. Tidak terkekang apapun dan siapapun, dan tidak pula mengekang, ia begitu hidup, kejadian-kejadian atas hidup yang menimpa dirinya adalah murni atas kehendaknya sendiri dan kehendak Tuhan tentunya.
Pernah satu waktu ia melewati selokan yang diatasnya berdiri sebuah kota yang megah, mungkin. Karena ia hanya bisa mendengar bunyi-bunyi yang tiada henti, dan suara alunan musik yang menggelegar. Sekonyong-konyongnya ia menemukan seekor bebek karet wanita yang sama, yang sedang mengalir mengikuti aliran air selokan yang sama, mereka mengalir bersama, mereka kerap mengobrol, membicarakan tentang tempat-tempat indah yang mereka pernah lalui, bercanda ria, tertawa-tawa bersama. Kala itu ia merasa sangat bahagia tidak harus menjalani hidup ini sendirian, oh...ia bersyukur akan hidup.
Tetapi rupanya takdir berkehendak lain, di satu cabang aliran selokan, bebek karet wanita itu mengikuti aliran selokan ke arah kanan sedangkan ia mengalir ke arah sebaliknya.
Kembali terucap kata dari seekor bebek karet itu, hidup tidak adil.
7 bulan berlalu.
Bebek karet itu telah mengalami fase-fase hidupnya, ia telah kuat, ia telah sangat siap dengan apa yang akan takdir sajikan di depan matanya.
Guratan - guratan atas apa yang pernah ia alami terukir jelas di wajah dan seluruh tubuhnya, ia mulai lusuh, warna tubuhnya tidak secemerlang seperti awal, penglihatannya pun seakan memudar,
"takdir telah melukis karyanya di sekujur tubuhku",pikirnya.
Merangkak, telah ia hadapi.
Tenggelam, pernah ia lalui.
Tersenyum paling manis, pernah menghampiri.
"apa lagi yang waktu akan beri untukku ?!"
Tanpa sadar pengalaman yang raksasa telah menunggunya didepan, telah menantikan seekor bebek karet yang telah berjuang hingga saat ini. Sang bebek karet itu hanya menantikan mati, hanya ingin mengakhiri perjalanan ini dengan damai dan serba putih.
Ia telah cukup lelah mengarungi hidup semata wayangnya ini. Tapi.
Pusaran air didepan tak bisa ia hindari, ia terputar - putar bersama air dan segala apa yang dikandunganya.
Ia tenggelam, tetapi ia bisa tenang bernafas didalam air.
"inilah saatnya !", ia duga.
Lama ia menutup mata, menantikan ajal hidupnya dengan tenang,
tak lama waktu berselang, ia membuka bola matanya.
Ia takjub dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya,
"apakah ini surga, apakah ini yang disebut orang kehidupan setelah kehidupan ?!",pikirnya.
Hamparan air yang sangat luas telah terbentang jelas dihadapannya,
Laut.
Sejauh ia menerawang, hanya hamparan air yang sangat luas yang ia lihat.
"Oh, takdir ingin aku masih berjuang melawan hidup, aku harus siap dengan apa yang telah diberikan untukku !",
Bersambung.
Tuts Hitam dan Tuts Putih
Derap jemari itu tak lagi berirama
Lentik - lentik tak lagi menari seperti kemarin dulu
Jiwa ini perlahan melepas dari kerangkengnya,
meninggalkan jasad ini dengan penuh kebisuan
Tak ada lagi melodi yang mengalun indah
Tak ada lagi nada - nada yang menari dengan lincah
Penjara lima baris tak lagi mendaulat
Romansa nada yang tercipta sangat sentimentil
Irama waltz hanya tinggal kenangan
semua itu pergi,
Aku ditinggalkan oleh pemilikku lampau
Ditempa dalam sebuah ruangan sesak dan berbau pekat
Aku tak lagi indah seperti dulu,
tak lagi berbahasa melodi seperti dulu
kekasih baru ku kini, mulai merawatku,
mebersihkan ku dari debu yang menempel setebal satu inci
Kawat - kawat yang sudah berkarat mulai diganti baru
Tuts berbahan kayu mahoni mulai menghiasi menggantikan tuts yang cacat tua
Aku mulai hidup kembali, tapi ini hampa
Saya butuh ruh untuk saya kembali
Saya butuh resital tari jemari untuk meniupkan arwah itu
Aku dipajang di ruangan depan bertembok kaca tembus pandang ke dunia luar,
bersama puluhan bangsa aku lainnya
Orang - orang mungkin melihat papan kayu tergantung di depan ruangan ini, yang berbunyi :
" Toko Alat Musik Si Tua George "
Aku melihat orang berlalu lalang di depanku,
berhilir mudik tanpa menilikku
tak ada yang mencoba untuk menghampiri
Tak ayal aku pun kembali bersedu
Suatu sore yang dingin bersalju,
bel pintu toko ini berbunyi menandakan seseorang telah masuk
tiba - tiba ada yang menekan gigi - gigi putih hitamku,
memainkan jari jemarinya di tubuh baruku
Ia seorang gadis kecil berpenampilan lucu,
lalu ia mencumbuku dengan mesra dan indah
ia tak seperti perawakannya yang mungil,
jari jemarinya mengkamuflase
"ya, ya teruskan", ujarku dalam hati
aku merasa aku semakin hidup kembali
aku merasa aku kembali ke dunia setelah hibernasi panjang yang membosankan
Gadis mungil itu memainkan beberapa nada - nada dan melodi, yang menyulut aku untuk kembali bernafas...
bersambung
Lentik - lentik tak lagi menari seperti kemarin dulu
Jiwa ini perlahan melepas dari kerangkengnya,
meninggalkan jasad ini dengan penuh kebisuan
Tak ada lagi melodi yang mengalun indah
Tak ada lagi nada - nada yang menari dengan lincah
Penjara lima baris tak lagi mendaulat
Romansa nada yang tercipta sangat sentimentil
Irama waltz hanya tinggal kenangan
semua itu pergi,
Aku ditinggalkan oleh pemilikku lampau
Ditempa dalam sebuah ruangan sesak dan berbau pekat
Aku tak lagi indah seperti dulu,
tak lagi berbahasa melodi seperti dulu
kekasih baru ku kini, mulai merawatku,
mebersihkan ku dari debu yang menempel setebal satu inci
Kawat - kawat yang sudah berkarat mulai diganti baru
Tuts berbahan kayu mahoni mulai menghiasi menggantikan tuts yang cacat tua
Aku mulai hidup kembali, tapi ini hampa
Saya butuh ruh untuk saya kembali
Saya butuh resital tari jemari untuk meniupkan arwah itu
Aku dipajang di ruangan depan bertembok kaca tembus pandang ke dunia luar,
bersama puluhan bangsa aku lainnya
Orang - orang mungkin melihat papan kayu tergantung di depan ruangan ini, yang berbunyi :
" Toko Alat Musik Si Tua George "
Aku melihat orang berlalu lalang di depanku,
berhilir mudik tanpa menilikku
tak ada yang mencoba untuk menghampiri
Tak ayal aku pun kembali bersedu
Suatu sore yang dingin bersalju,
bel pintu toko ini berbunyi menandakan seseorang telah masuk
tiba - tiba ada yang menekan gigi - gigi putih hitamku,
memainkan jari jemarinya di tubuh baruku
Ia seorang gadis kecil berpenampilan lucu,
lalu ia mencumbuku dengan mesra dan indah
ia tak seperti perawakannya yang mungil,
jari jemarinya mengkamuflase
"ya, ya teruskan", ujarku dalam hati
aku merasa aku semakin hidup kembali
aku merasa aku kembali ke dunia setelah hibernasi panjang yang membosankan
Gadis mungil itu memainkan beberapa nada - nada dan melodi, yang menyulut aku untuk kembali bernafas...
bersambung
Kubangan
Sore hari ini adalah sore yang menyenangkan, hujan siang tadi cukup membasahi tanah-tanah kering yang sudah lama tidak dijumpainya. Oh, saya jatuh cinta sekali dengan bau tanah kering yang menguap dibasahi hujan, harum itu tidak akan pernah ditemui dimanapun dalam keadaan apapun lagi, hanya ketika air turun dari langit ke bumi. Tapi hujan telah berhenti sekarang, tergantikan sinar matahari yang bersahabat dengan kulit, coretan warna-warni yang terpampang indah di dinding langit, sisa-sisa hujan yang masih mengalir pelan dan jatuh dengan berirama dari atap rumah, pepohonan masih meneteskan tetesan air sesekali, dan tanah yang semula kering merontang berubah menjadi sangat lembek, basah, dan terdapat beberapa kubangan di sekitar.
Sore ini mungkin beberapa orang mengerutkan niatnya untuk bepergian, atau hanya jalan-jalan di sore yang indah ini, karena jalanan menjadi becek dimana-mana, entah mereka kebanyakan takut akan kotor atau takut akan hujan membasahi bumi kembali.
Tetapi tidak bagi beberapa anak-anak yang menjadikan tanah lapang becek berkubang menjadi arena bermain mereka, mereka tidak peduli akan basah akan kotor. Ada beberapa anak yang mengenakan kaosnya dan ada pula yang bertelanjang dada saja, seolah-olah sikap yang menantang, mengumandangkan bahwa mereka tidak takut akan tanah yang becek, bahwa tidak peduli kotor yang menempel, bahwa mereka bahagia.
Mereka tampak seru bermain sepakbola, yang lebih tepatnya mereka bermain lumpur ketimbang bermain dengan bola, wajah-wajah muda yang berseri-seri itu tidak pernah pudar dan seringkali meledak tawa-tawa mereka yang membuat orang lain pun tersenyum. Bola yang semula berwarna putih hitam cemerlang, kini didominasi warna coklat kehitaman yang berasal dari lumpur, bola itu ditendang oleh salah satu anak mengarah pada kawanan teman-temannya yang berkumpul di tengah lapang, lapang ini sebenarnya bukanlah lapang dalam artian sebenarnya, lapang ini adalah halaman rumah salah satu anak-anak itu yang tidak terlalu besar, mungkin bisa dibilang cukup kecil.
Bola yang tadi ditendang memuncratkan amunisi-amunisi lumpur yang menempel di sekujur karet bundar itu, alhasil beberapa anak terkena lumpur-lumpur yang melayang-layang di udara, tapi anak-anak yang terkena cipratan lumpur tidak nampak marah, malah sebaliknya tawa-tawa itu kembali menggelegar dan membahana di kumpulan anak-anak tersebut.
Ketika saya sedang menikmati tingkah laku anak-anak itu, saya kaget bola yang entah ditendang oleh siapa mengenai saya, dan saya pun terkotori oleh lumpur, saya tidak bisa marah dan saya tidak suka marah. Salah satu dari anak-anak itu berlari mendekat dan mengambil bola yang tergeletak tidak jauh dari saya dan kembali ke kawanannya tanpa berkata apa-apa, tidak apa-apa saya tidak marah.
"AHMAD KAMU BUKANNYA NGAJI, MALAH MAIN KOTOR-KOTORAN...PULANGGG!!!",
seorang ibu dengan air muka yang garang dan menggenggam sapu di tangan kanannya, berkata atau lebih mendekati berteriak kepada salah satu dari beberapa anak yang sedang tertawa kencang, lalu si anak yang merasa namanya dipanggil, dengan segera mengambil kaosnya yang tergeletak ditanah dan segera berlari dengan wajah takut menghampiri ibunya, mungkin hujan atupun lumpur tidak sama sekali membuat takut dia tapi tidak dengan sosok ibunya yang sangat menciutkan nyalinya.
Anak-anak yang lain tidak menggubris dengan salah satu temannya yang dimarahi, malahan mereka melanjutkan kembali permainan bola lumpurnya. Mereka seperti tidak mengenal lelah, jangankan lelah menghela nafas pun sepertinya tidak, malah cekikikan-cekikikan yang keluar dari mulut mereka.
Hingga sang matahari yang tinggal setitik lagi lah yang membuat anak-anak itu berhenti, dan lagipula terdengar sayup-sayup lirih suara adzan maghrib yang berkumandang, mereka mulai memunguti kaos dan sandal yang tercecer di tanah, satu persatu dari mereka meninggalkan tanah lapang itu sambil sesekali bercanda, anak yang sudah aku tunggu dari semula berjalan ke arahku dan lalu menghampiriku, salah satu temannya memanggilnya lalu ia menoleh kebelakang lalu berteriak kepada teman-temannya,
"besok kita main lagi ya teman-teman!!!",
kemudian ia berpaling kepadaku, menaikiku, memegang kedua besi yang menyabang di diriku, dan lalu mengayuh kakinya pada kedua pedal yang menjadi bagian tubuhku, berputarlah kedua kaki-kaki karet bundarku, melesat dengan cepat di jalanan yang basah, dan dingin.
"ayo kita pulang sepedaku!"
* Teras dari sebuah rumah yang ditinggal mudik penghuninya.
Cimahi, 24 september 2009.
Sore ini mungkin beberapa orang mengerutkan niatnya untuk bepergian, atau hanya jalan-jalan di sore yang indah ini, karena jalanan menjadi becek dimana-mana, entah mereka kebanyakan takut akan kotor atau takut akan hujan membasahi bumi kembali.
Tetapi tidak bagi beberapa anak-anak yang menjadikan tanah lapang becek berkubang menjadi arena bermain mereka, mereka tidak peduli akan basah akan kotor. Ada beberapa anak yang mengenakan kaosnya dan ada pula yang bertelanjang dada saja, seolah-olah sikap yang menantang, mengumandangkan bahwa mereka tidak takut akan tanah yang becek, bahwa tidak peduli kotor yang menempel, bahwa mereka bahagia.
Mereka tampak seru bermain sepakbola, yang lebih tepatnya mereka bermain lumpur ketimbang bermain dengan bola, wajah-wajah muda yang berseri-seri itu tidak pernah pudar dan seringkali meledak tawa-tawa mereka yang membuat orang lain pun tersenyum. Bola yang semula berwarna putih hitam cemerlang, kini didominasi warna coklat kehitaman yang berasal dari lumpur, bola itu ditendang oleh salah satu anak mengarah pada kawanan teman-temannya yang berkumpul di tengah lapang, lapang ini sebenarnya bukanlah lapang dalam artian sebenarnya, lapang ini adalah halaman rumah salah satu anak-anak itu yang tidak terlalu besar, mungkin bisa dibilang cukup kecil.
Bola yang tadi ditendang memuncratkan amunisi-amunisi lumpur yang menempel di sekujur karet bundar itu, alhasil beberapa anak terkena lumpur-lumpur yang melayang-layang di udara, tapi anak-anak yang terkena cipratan lumpur tidak nampak marah, malah sebaliknya tawa-tawa itu kembali menggelegar dan membahana di kumpulan anak-anak tersebut.
Ketika saya sedang menikmati tingkah laku anak-anak itu, saya kaget bola yang entah ditendang oleh siapa mengenai saya, dan saya pun terkotori oleh lumpur, saya tidak bisa marah dan saya tidak suka marah. Salah satu dari anak-anak itu berlari mendekat dan mengambil bola yang tergeletak tidak jauh dari saya dan kembali ke kawanannya tanpa berkata apa-apa, tidak apa-apa saya tidak marah.
"AHMAD KAMU BUKANNYA NGAJI, MALAH MAIN KOTOR-KOTORAN...PULANGGG!!
seorang ibu dengan air muka yang garang dan menggenggam sapu di tangan kanannya, berkata atau lebih mendekati berteriak kepada salah satu dari beberapa anak yang sedang tertawa kencang, lalu si anak yang merasa namanya dipanggil, dengan segera mengambil kaosnya yang tergeletak ditanah dan segera berlari dengan wajah takut menghampiri ibunya, mungkin hujan atupun lumpur tidak sama sekali membuat takut dia tapi tidak dengan sosok ibunya yang sangat menciutkan nyalinya.
Anak-anak yang lain tidak menggubris dengan salah satu temannya yang dimarahi, malahan mereka melanjutkan kembali permainan bola lumpurnya. Mereka seperti tidak mengenal lelah, jangankan lelah menghela nafas pun sepertinya tidak, malah cekikikan-cekikikan yang keluar dari mulut mereka.
Hingga sang matahari yang tinggal setitik lagi lah yang membuat anak-anak itu berhenti, dan lagipula terdengar sayup-sayup lirih suara adzan maghrib yang berkumandang, mereka mulai memunguti kaos dan sandal yang tercecer di tanah, satu persatu dari mereka meninggalkan tanah lapang itu sambil sesekali bercanda, anak yang sudah aku tunggu dari semula berjalan ke arahku dan lalu menghampiriku, salah satu temannya memanggilnya lalu ia menoleh kebelakang lalu berteriak kepada teman-temannya,
"besok kita main lagi ya teman-teman!!!",
kemudian ia berpaling kepadaku, menaikiku, memegang kedua besi yang menyabang di diriku, dan lalu mengayuh kakinya pada kedua pedal yang menjadi bagian tubuhku, berputarlah kedua kaki-kaki karet bundarku, melesat dengan cepat di jalanan yang basah, dan dingin.
"ayo kita pulang sepedaku!"
* Teras dari sebuah rumah yang ditinggal mudik penghuninya.
Cimahi, 24 september 2009.
Langganan:
Postingan (Atom)