Tampilkan postingan dengan label Tak Berbentuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tak Berbentuk. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2009

Jam berapa kamu akan datang ke rumahku ?!

Jam berapa kamu akan datang ke rumahku ?! apakah sore ini ataukah besok pagi, saya akan menunggu kamu dirumah, saya tidak akan kemana-mana, saya takut ketika saya pergi barang sebentar ketika itu pula kamu datang .

Sekarang baru jam 10 pagi, tidak lama sepertinya bila sampai sore hari menunggu atau sampai besok pagi, tidak apa-apa kok saya tidak keberatan, sekiranya kamu akan datang jam berapa? Sekarang saya harus mengerjakan apa alih-alih menunggu kedatanganmu, jam berapa sih kiranya kamu datang?

Aku sudah kelihatan tidak sabar ya, aku sabar kok sebenarnya, kamu tidak percaya aku sabar ya, kenapa juga aku harus tidak sabar, aku bakal sabar kok tenang saja. Aku hanya ingin tahu saja kamu datang jam berapa sepertinya? Sore ini kan, atau besok pagi. Aku sabar tahu tidak kamu, hanya mulut aku saja ini yang gatal ingin ngomong terus, kalau aku sendiri sih aku pasti sabar.

Kamu seperti apa ya sekarang, sudah lama aku tidak pernah melihat wajah kamu, sepertinya kamu kelihatan lebih dewasa mungkin ya, tapi kamu tetap menarik seperti pertama aku melihat kamu semoga. Kira-kira sore ini kalau kamu datang, jam berapa ya, jam 4 atau jam 5 sore ya? Aku mandi lagi tidak ya nanti sore, ngomong-ngomong aku sudah mandi dari tadi pagi sekali, tapi sepertinya aku bakal mandi lagi kalau kamu datang.

Tapi, jam berapa kamu akan datang kerumahku? Kalau besok pagi kira-kira jam berapa sepertinya, pagi buta atau sudah agak siangan ya, kalau pagi sekali aku sudah bangun belum ya? Aku takut ketika kamu datang aku belum bangun, atau sedang mandi di kamar mandi belakang, kalau kamu datang terus bagaimana? Kalau seperti itu, aku pikir aku tidak akan mandi, tapi nanti kamu bilang aku bau.

Kalau nanti sore aku sedang apa kiranya ketika kamu datang ya, aku takut aku ketiduran ketika menunggu kamu, nanti kalau aku tidak mendengar suara ketukan pintu bagaimana? Aku akan minum kopi beberapa gelas saja supaya tidak mengantuk ketika menunggu kamu, kira-kira kamu akan datang kerumah aku jam berapa ya?!

Ayo jujur pasti kamu menganggap aku sudah tidak sabar ya, tidak kok, aku masih sabar sampai sekarang, kamu datang pakai baju apa ya? Apakah bakal memakai baju warna biru muda kesukaan kamu itu, atau warna hijau kesukaan aku ya ? Tapi kamu akan datang sore ini atau besok pagi ya.

*Cimahi, 16 November 2009

Jabat Tanganku

Siapa kamu?!
Siapa sebenar-benarnya kamu?!

Tidak pernah ada kesempatan untuk jauh lebih mengenalmu
Aku hanya bisa mengenal lewat karya-karyamu, tidak pernah lebih

Melalui tulisan-tulisan lah aku bisa mengenalmu, hebat aku pikir.
Tulisan-tulisanmu membawa pikiranku lebih mengenalmu,
mengetahui sifatmu, mengetahui apa yang sudah kamu kerjakan, mengetahui apa yang kau pikirkan dan terpikirkan olehku

Melalui gambar-gambar kameramu lah aku bisa tahu,
siapa teman-temanmu, apa yang kamu lakukan bersama mereka,
belahan bumi dimana kau dan bayanganmu pernah berada

Aku berhasrat untuk lebih lagi dan lebih lagi mengenalmu,
ayolah jabat tanganku, jabat erat kedua lenganku,
hanya cara itu aku bisa menembus jalan pikiranmu,
hanya jalan itu kamu bisa mengetahui bahwa aku bersahabat, aku baik

Kita tidak pernah berbincang, apalagi bercanda tawa
kita hanya sebuah partikel yang berjauhan
sebuah elemen antara negatif dan positif, kau di utara aku di selatan

Tapi aku rasa kita serupa, bersama dalam satu cubicle tak terbatas
kita sebuah kesatuan, berada dalam satu pemijahan beda kolam
kita satu spesies, satu ordo, hanya lingkungan saja yang berbeda,
tapi aku sudah pasti, aku baik

Maka tidak merugi engkau menjabat tanganku
tak akan merugi kita bersenggama dalam pikiran, bicara
ayo, jabat tanganku, jabat erat kedua tanganku

* Saat semua kembali terbentuk, aku hanya sendiri
Cimahi, 19 November 2009

Bertumpuk-tumpuk, Bernyawa, Manusia, dan Putih

Lantai ini tak pernah sedingin ini sebelumnya,
Tembok ini tak pernah sesempit sekarang,
Atap ini pun tak pernah serendah seperti sekarang,
Kursi, meja, kasur, komputer, lemari, gitar,
Seperti sebuah seni kolase yang bertumpuk-tumpuk.

Ruangan ini tidak bergerak, ruangan ini dingin
Menyempitkanku didalamnya, membeku
Ruangan ini tidak bernafas, tak berkata pula
Ada aku yang terjebak, lemah tak bernyawa

Tidakkah engkau mendengar rintihannya
Meraung-raung memohon cerita segar
Ceritera tentang yang apa terjadi di alam semesta
Tidak sedikit pun kah kau mendengarnya, manusia

Mimpi ini berubah arah, merubah haluannya
Beranjak dari suatu kisah tak terarah
Membentuk sebuah wajah dari coretan crayon
dan hanya ada dua warna,
hitam...(menghela) dan putih.


* Menghitam darah ini, membujur kaku dalam poros stagnan
Cimahi, 13 November 2009

Jumat, 13 November 2009

Kincir Angin

Sad...Dissapointed...Mad...desperated...

curious...headache...laugh...sleep...

smile...pensive...think...cry...

awake...alone...pray...quite...


Siklus fraktal yang memberitahu tentang analogi sisi perubahan anomali hati, yang tak kunjung usai. Artificial hidup, hanya itu yang bisa disajikan hangat dengan secangkir kopi panas, tanpa tertendensi animo huru-hara yang lapuk yang berkarat tak kentara.
Inikah awal dari masa bifurkasi yang fragmentif, awal dimana adalah akhir, dan akhir adalah kebahagian, perspektif demikian yang mengaburkan pandangan akan tajamnya dan kejinya hidup, apa yang mau dilepaskan sekarang, semua terasa begitu lamban, waktu yang mengendur bak karet gelang, tik...tok...tik...tok...
Terasa detik ini begitu menyesatkan, bayangan dari pendulum imajiner yang terus bergerak, bergerak dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Hiptonis apakah yang hidup coba terapkan kepada saya,teori-teori yang diinvasikan, terasa sangat murni, mengalir bagai air sungai yang penuh dengan cahaya menyilaukan, mungkinkah ini hanya fatamorgana, ataukah realita kongkrit tentang hidup dan mati, terasa sangat membingungkan sekali, halo, adakah orang lain yang sedang berjuang bersama saya sekarang, adakah manusia lain yang ikut tersesat juga ?!
Ah, peduli setan dengan orang lain, mereka pun sepertinya sama tidak mengindahkan ada orang lain yang seperti mereka, jangan salahkan aku yang bersifat skeptis seperti ini, ini hanya refleksi yang aku keluarkan.
Bingung memang, tapi apa sih yang tidak membingungkan di dunia ini, coba ?! apa ?!
ya..ya..ya..saya sudah mengetahuinya, problematic memang.
Antara eksis dan tidak berwujud...abstrak!

Coba dirunut kembali, petunjuk-petunjuk apa yang terlewat, hanya momentum yang berubah menjadi kenangan kah ?
atau kah ada seorang anak kecil yang sedang mencoba untuk menyeberangi sungai itu, biarkan..biarkan anak itu mencoba instuisinya, tajamkan lagi pikiran.
Oh, saya mohon berhenti berbisik lirih kepada saya, saya sudah cukup miris, kenapa tidak sekalian saja kau teriak, teriakan, lantangkan organ - organ yang sudah lama terlelap di balik jasad busukmu itu. Kaburkan hasrat tidak sabar yang berdalih mencoba memberi apel merah segar nan ranum, tapi beracun.
Pikirkan putih disaat hitam mendominasi, pikirkan oase yang begitu menyenangkan diantara beribu-ribu mil hamparan pasir gersang, stimulus lagi terus dan menerus, dan jangan pernah menyerah, bifurkasi itu akan menemui satu titik persimpangan, ya, satu tolak balik yang bahagia mungkin, ataukah malah berakhir sebaliknya ?!
Oh, tidak hitam ini mulai menjalar lagi, putih ini kehabisan nafasnya, ia mulai terbenam di lumpur hitam yang menjijikan, pikirkan lagi putih, pikirkan lagi terang yang menjanjikan.

ahhh, rasa ingin meledak-ledak, ingin sekali terbang walaupun tak ada sayap, hanya inilah yang aku percayai sampai sekarang, hanya inilah yang mengantarkanku sampai pada titik darah penghabisan...Cinta !

Ini Bukan Prosa

Saat bintang bersanding dengan bulan, saat itulah aku memutuskan untuk membawa lari tubuhku ke dalam pekatnya malam. Terengah - engah nafasku terseok - seok seakan - akan inilah nafas terakhirku di bumi, saat terakhir zat oksigen ini berada di paru - paruku. Aku membawa tulisanku ini kedalam metaphora tak terbatas, tak terbelenggu, esensi yang tiada akhir. Kubiarkan mengawang, kubiarkan memekik dalam kebisingannya sendiri yang sunyi, takkan kubiarkan langit membentengi laju akal ini.

Aku pun sebenar - benarnya tidak tahu akan kemana coretan - coretan ini pergi, tak mengarah tujuan, tak menepi daratan. Tapi hasrat ini memuncak, siap memuntahkan isi magma panas yang terlama mengendap membisu. Saat - saat inilah yang aku tunggu dalam kurun waktu tak menentu yang membelenggu, yang memenjarakan imajinasi hanya untuk nasi.

Aku, kamu, mereka, tak akan bisa menghentikan aliran dahsyat intuisi ini, aliran yang memanggil untuk dilihat, untuk didengar, untuk sama - sama dihayati. Tulisan ini tidak mudah untuk dimengerti, tidak mudah untuk dicerna isi dan tujuannya, tapi tulisan ini berelegi murni. Membisik lirih, menyayat hati, dan mengeluarkan air mata, tulisan ini adalah sebuah demontrasi bathin yang berlarut - larut.
Tidak mudah memang, mengeluarkan rasa sakit ini dengan mulus, dengan begitu indahnya nan menyilaukan. Hasrat ini tertambat di ruang antara ribuan kata - kata dan ribuan visual yang menjadikan kalimat. Hikayat dari arti sebuah kesunyian dan keinginan yang besar, yang tiada tara akan sesuatu yang indah.

Catatan : gonggongan angin tak berdaya, sinar malam tak menyapa, ada apakah ini ?

Wajah Perempuan Ini

Ia lembut, tak sedikit pun cela
Ia selembut ice cream rasa vanilla, yang kelembutannya membekukan lidah untuk berkata.

Ia bercahaya, ribuan helai hitam indah menaunginya
Ia terbuat dari seluruh warna cahaya, ia menyilaukan semua mata yang menatapnya

Ia elok, tak terlihat cacat di lekuk - lekuknya
Ia telah diukir dengan segenap kemampuan Tuhan dan Tuhan sangat berhati - hati mengukir tiap incinya, ia begitu sempurna.

Ia cantik, saya tidak mempunyai cadangan kata - kata lagi
Ia begitu hebat untuk ditatap, ia begitu...ah, hilang lagi kata - kata saya untuk mengungkapkannya.

Kamu adalah hal yang paling indah yang tak bisa dilahap oleh kata - kata dan kalimat. Tidak perlu mata yang tajam, sepasang mata yang sudah rabun pun pasti bisa melihat kalau kamu cantik.

Kamu masterpiece sang pencipta, kamu mahakarya dari mahakaryanya yang paling indah, kamu tabu untuk dilihat apalagi untuk disentuh oleh sembarang manusia, karena kamu indah.

* belum rampung.

ps : didedikasikan untuk seluruh sahabat - sahabat wanita saya,sedikit ungkapan kata dari saya. Kalian adalah makhluk - makhluk hebat yang Tuhan bawa dalam kehidupan saya. Salute. Terima Kasih.Saya sayang kalian.

Selasa, 20 Oktober 2009

Saya Menunggu Seseorang

Saya masih menempelkan handphone saya di telinga kanan saya, karena yang kiri sudah tidak berfungsi dengan baik, masih dengan nada yang sama, masih dengan irama yang sama, tut...tut...tut...saya menunggu seseorang di ujung sana untuk mengangkat telepon dari saya, sama-sama menempelkan handphonenya di telinganya seperti saya, hingga akhirnya sampai bunyi tut yang cepat dan panjang pun dia tidak mengangkat telepon dari saya.
Saya coba lagi menekan nomor yang sama, nama yang sama, dengan siklus yang sama, tapi tetap saja tidak ada balasan dari orang di ujung sana, tidak terasa sepertinya saya sudah menekan nomor yang sama dan nama yang sama ini lebih dari 30 kali, saya sabar, tepatnya saya mencoba untuk sabar.
Saya bertanya-tanya di dalam pikiran saya, ada apa ini, ada apa dengan dia, adakah dia baik-baik saja di seberang sana...?! saya tidak tahu karena saya belum meraih satu kata pun yang keluar dari mulut dia, saya takut sekali, sangat ketakutan, apa jadinya bila dia tidak baik-baik saja, apa jadinya saya...?!